0
Sunset di Pelabuhan Ulee Lhee

Pantai Ulee Lhee, tempat ini menyimpan banyak memory bagi saya. Sebuah kenangan abadi yang akan selalu terlintas disaat saya menapakkan langkah kaki disana. Inilah ketiga kalinya setelah tsunami saya mengitari daerah tersebut. Rasanya seperti sedang menonton sebuah video masa silam, selalu sebuah wajah langsung terbayang, mulai ketika saya melihat masjid Ulee Lhee, terbayang saat-saat saya dan seorang teman pernah shalat dan bercanda disana, ketika melewati jembatan dan melihat pantai, terbayang saat saya makan jagung bakar sambil menikmati senja, sedangkan teman saya dan ibunya melayani pembeli, dan tatkala melihat pelabuhan, terbayang saat saya dan teman saya mencari tempat outbound untuk acara FARM (Format Aktivis Rohis Mahasiswa) Mushalla Al-Ikhsan.   

9 tahun telah berlalu dari peristiwa dasyat itu, selama itu pula saya tidak pernah tahu kuburan teman saya dimana, begitu pun keluarganya. Tempat dimana mereka biasa berjualan kini telah menjadi lautan. Sungguh, tak kuasa saya bendung air mata setiap kali saya kesana, wajah Icut seperti menghiasi langit, seakan-akan menyapa, "Assalamualaikum...lama kita tidak berjumpa..." Ia teman yang baik, selalu memotivasi saya untuk segera menyelesaikan skripsi, tak pernah jemu meng-sms saya sekedar bertanya sudah mengajukan judul penelitian belum? Sudah sampai bab berapa skripsinya? Bahkan di hari Tsunami itu terjadi, pagi harinya ia sempat menelpon saya, namun sayangnya saya tidak mendengarnya panggilan dari Icut, dan ternyata panggilan tersebut adalah panggilan terakhir darinya.

Hari-hari setelah itu adalah hari-hari penuh perjuangan, tiada lagi omelan seorang teman yang mengingatkan. Setiap saya ke kampus setiap sudut tempat punya kenangan bersamanya. Setahun setelah peristiwa tersebut, Alhamdulillah study mampu saya rampungkan. Di hari wisuda, ketika semua wajah terlihat bahagia, masih saja mata saya berkaca. Saya arahkan pandangan ke seluruh ruang di dalam gedung, saya tatap atap ruangan, dan hati saya berkata, “aku diwisuda hari ini, kau bisa lihat kan?” 

Menjelang nama saya dipanggil untuk naik ke atas panggung, air mata tak sanggup lagi saya bendung, sambil berjalan menuju tangga air mata saya hapus dan hati saya terus berkata, “Lihatlah kawan, aku diwisuda hari ini, bukankah ini yang selalu kamu tunggu-tunggu”. Turun dari panggung dengan map ijazah ditangan kembali hati saya berkata, “kawan lihatlah aku diwisuda hari ini, aku punya ijazah sekarang.” 

Orang yang melihat mata saya yang berkaca hari itu mungkin mengira saya menangis karena terharu, hanya orang tua saya yang tahu, air mata itu karena mengenangmu, karena kamulah satu-satunya teman yang tak pernah jemu mengingatkan ku untuk segera menyelesaikan study, kamu teman yang selalu mengatakan ingin melihat diriku diwisuda. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu di dunia dengan memberimu tempat istimewa disana. Aamiin… Semoga Allah pertemukan kita kembali di surga kawan. Aamiin..




Post a Comment

 
Top